Mungkin kita masih ingat waktu kita masih kecil sering menangis. Tangisan itu terjadi entah di sebabkan oleh apapun, yang pasti kita juga masih ingat orang tua kita atau orang-orang yang berada di sekitar kita mencoba menghentikannya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengatakan, ” Jangan menangis !!”. Jangan teriak-teriak, mengganggu yang lain ! ”. Jangan ! Jangan ! dan Jangan ! ...
Setelah upaya menghentikan tangisan trersebut dengan menggunakan kata-kata di atas, apakah yang akan terjadi ? Apakah tangisan itu terus berhenti ? Pastinya bukan, yang terjadi malah tangisan itu semakin keras dan menjadi-jadi. Lantas KENAPA ? Kenapa kata ” jangan ” tersebut tidak efektif menghentikan tangisan alias melempem ?
Sepintas bentakan orang tua untuk menghentikan tangisan menggunakan kata ” jangan ” tersebut sangatlah wajar. Di mana hampir semua orang tua kita mestinya akan pakai kata ”jangan” untuk menghentikan tangisan tersebut. Mau pakai kata apa, selain kata ”jangan” ?
Tetapi, tahukah kita bahwa cara menghentikan tangisan dengan kata ”jangan” bertentangan dengan daya tangkap dan cara kerja otak dalam menerima dan mengolah informasi. Khususnya informasi yang ditangkap oleh otak memalui auditori.
Dalam struktur otak manusia, diperkirakan terdapat 1 triliun sel otak. Sel otak ini di sebut dengan istilah NEURON. Neuron inilah yang bertanggungjawab terhadap semua proses penerimaan dan pengolahan data yang diterima (informasi) lewat panca indra. Dan karena itu neuron inilah yang bertanggungjawab juga terhadap semua tindakan manusia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dr. Fadli Noor, seorang dokter yang juga master di bidang Neuro Linguistic Programming (NLP), ditemukan satu fakta bahwa dalam melaksanakan tugasnya neuron otak kita cenderung jauh lebih gampang menerima instruksi yang menggunakan Verb ( kata kerja ). Sedangkan kata ”jangan” bukanlah kata kerja, hingga jauh lebih sulit diterjemahkan oleh neuron kita. Contohnya, ketika anak kita tertawa karena melihat Aziz Gagap nglawak di acara Opera Van Java, dan kita menyerukan larangan , ” Jangan tertawa !”, kepadanya, maka yang cepat di respon oleh otak si kecil adalah jenis verb-nya, yaitu ” tertawa ” nya, sehingga otomatis anak kita tadi cenderung malah menambah volume dan kualitas tertawanya alias menjadi terpingkal-pingkal.
Kata ”jangan” kurang tepat bila dipakai untuk menghentikan suatu perbuatan yang sedang terjadi atau berlangsung. Sebab kata ” jangan ” lebih merujuk kepada suatu pencegahan terhadap suatu perbuatan yang belum atau akan terjadi. Misalnya, ketika anak kita akan berangkat bermain sepeda dengan teman-temannya, dan kita memberinya pesan, ” Jangan jauh-jauh ya nak ...”, itu akan lebih mudah diterima karena toh si anak belum memulai bersepedanya.
Sebagai solusi agar kita bisa menghentikan perbuatan kurang baik ( contohnya tertawa terus-menerus dan keras sekali sehingga mengganggu anggota keluarga yang lain ) yang sedang dikerjakan anak kita, maka bisa dilakukan dengan :
1. Menghentikannya langsung dengan menggunakan kata kerja. Misalnya, Berhentilah tertawa.
2. Mengalihkan perhatiannya dengan memintanya untuk melakukan hal lain. Misalnya, Andi, sudah waktunya salat. Ayo cepat ambil wudu.
Apalagi waktu menghentikannya kita gunakan intonasi yang lembut dan penuh kasih sayang, pasti lebih efektif. Selamat mencoba !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar