Selasa, 02 Februari 2010

GURU JUGA MANUSIA

Di belahan dunia mana saja dalam setiap komunitas manusia pasti ada diantaranya yang berprofesi seorang guru. Guru atau dengan istilah lain seperti Cik Gu di Malaysia, Syaikh di Saudi Arabia, Shifu di Cina ataupun Teacher di dunia barat, semua adalah sebutan yang baik dan ada nilai-nilai penghormatan di dalamnya. Labelisasi terhadap profesi satu ini menarik satu konsekuensi yang harus melebur dalam kepribadiannya. Betapa tidak, dengan sebutan atau label itu secara otomatis stikma masyarakat sekitarnya akan berubah ke hal-hal pencitraan yang baik, positif, terhormat, priyayi, berkelas dan lain sebagainya.
Kebaikan, kepositifan di atas beriringan dengan beban-beban intelektualitas, skill, ketrampilan , etika, moral, ketokohan dan suri tauladan yang harus berada dipundaknya. Beban itu harus terus dipikulnya selama profesi guru itu sedang disandangnya dan bahkan setelah profesi itu dilepasnyapun. Artinya, beban itu melekat sampai akhir hayat.
Dahulu atau bahkan sampai sekarang –walaupun sudah mulai leleh sedikit demi sedikit, di masyarakat berkembang satu konvensi yang terpatri dalam pandangan public bahwa seorang guru identik dengan dunia priyayi. Seorang guru adalah priyayi yang harus terlihat pintar (intelek), berwibawa, bijaksana, lemah-lembut, sopan santun menjunjung tinggi etika dan moral (akhlaqul karimah) dan selalu menjadi panutan (suri tauladan) bagi sekitarnya. Dengan begitu lantas muncul ketidak pantasan, ditabukan dan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau harus ditinggalkannya. Walaupun hal-hal yang tidak pantas, ditabukan dan dilarang tersebut biasa dan sah-sah saja dilakukan oleh manusia di luar profesi guru. Misalnya seorang guru tidak pantas kerja sampingan menjadi seorang sopir angkot, tukang ojek, penjual mainan keliling, calo di terminal, makelar tanah, blantik hewan, pangkas rambut, tukang odong-odong, atraksi monyet dll. Mereka juga ditabukan dan dilarang jajan di warung pinggir jalan, berbicara dengan nada keras (teriak-teriak), berdebat dengan sengit (menjurus kepertengkaran), mengeluhkan kondisi ekonominya yang sebenarnya, berdemo (ekpresikan tuntutan), tidak ikut kerja bakti (walau sedang sakit) dll.
Kondisi yang melingkupi guru berupa ketidakpantasan, tabu dan larangan-larangan di atas mengakibatkan mengedepannya dua hal yang berlawanan. Di satu sisi bisa memunculkan terbentuknya pribadi guru dengan balutan perilaku positif, di sisi lain bias saja yang terbentuk malah pribadi guru dengan perilaku negative.
Bagi seorang guru yang mau mengambil manfaat dan menyikapi tuntutan di atas sebagai frame kebenaran yang menuntunnya pada trek profesionalitas –walaupun pasti ditemukan kekurangan, maka otomatis penyikapan tersebut akan membentuk pribadi guru semakin baik, terus maju dan ideal. Tetapi, bagi guru yang gerah dan memberontak serta menutup mata terhadap tuntutan tersebut, maka tidak akan terbentuk pribadi guru yang ideal. Lantas seharusnya bagaimana ??
Keputusan di tangan anda para guru yang berfikiran jernih, berjiwa pengabdian, bertekad untuk maju dan berjuang demi peningkatan mutu pendidikan. Ayo!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar