Senin, 01 Februari 2010
GURU DIGUGU DAN DITIRU
Gonjang-ganjing dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan peran guru di dalamnya. Majunya dunia pendidikan salah satunya atas semakin berkualitasnya seorang guru. Tanpa ikhtiar yang terus menerus untuk semakin meningkatkan kompetensi keguruannya, maka seorang guru hanyalah pribadi yang disebut dengan sebutan pak atau bu guru yang kosong. Dan juga akan sangat tertinggal jauh dari melesatnya kemajuan dunia pendidikan.
Seseorang yang telah berani menerjunkan dirinya di kancah dunia pendidikan dengan mengambil peran sebagai seorang guru mestinya tidak pernah berhenti untuk terus menerus mengasah diri dengan berbagai pengetahuan, keterampilan dan akhlak mulia. Pengetahuan dimaksud adalah pengetahuan keilmuan mutakhir yang berkaitan dengan bidang apapun. Seorang guru tidak boleh membatasi dirinya hanya mengetahui dunia pendidikan saja. Sebab ilmu pengetahuan yang akan ditransfer kepada siswanya adalah kompleksitas permasalahan. Dengan banyaknya ilmu pengetahuan akan sangat membantu seorang guru membimbing siswanya menuju puncak kesuksesan hidup. Bila seorang guru sudah merasa puas dan mencukupkan bekal dirinya dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya di kampus saja, maka guru tersebut dijamin ketinggalan, usang, konservatif dan tergilas oleh semangat yang menggelora dari para siswanya akan kebutuhan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.
Di samping bekal keilmuan, seorang guru juga dituntut mempunyai keterampilan di bidang perencanaan, strategi dan ragam aktivitas pembelajaran. Keterampilan ini harus dimilikinya bila tidak mau menyaksikan proses pembelajarannya tak bermakna apa-apa bagi siswanya. Sebab tidak semua pembelajaran di dalam kelas yang sedang dilakukannya adalah benar-benar sebuah pembelajaran. Jangan-jangan hanya pengumuman yang masuk telinga kiri dan langsung keluar dari telinga kanan siswa. Ingat, materi pembelajaran hanya masuk maksimal 10 % ke memori otak siswa bila materi itu disampaikan dengan cara berceramah (pengumuman informasi). Dengan pembelajaran yang terencana, memakai strategi yang pas (sesuai kecenderungan gaya belajar siswa), maka pembelajaran menjadi lebih hidup, menyenangkan dan bermakna bagi para siswa.
Kemudian, yang tak kalah pentingnya dengan dua kemampuan di atas adalah proses pembelajaran di sekolah harus berorientasi pada tranfer nilai-nilai, etika, moral dalam rangka membangun karakter siswa. Dalam rangka pembangunan karakter tersebut, posisi guru adalah di garda terdepan sebagai suri tauladan. Sebab tanpa contoh yang baik dari seorang guru, rasanya tidak tepat bila kita berharap moral, etika anak didik kita akan baik. Seorang guru yang dipertanyakan kualitas kepribadiannya, akan sulit membawa anak didiknya menuju kepada pribadi-pribadi yang santun, ramah, ikhlas, jujur dan bertanggungjawab.
Nah, ayo para guru marilah kita bersama-sama mencoba mengasah diri kita dengan pengetahuan, keterampilan dan akhlak mulia. Sehingga kita akan menjadi guru yang digugu dan ditiru. Amin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar