Kamis, 22 April 2010

SPON KERING

Bagi anak-anak film kartun Spongebob menjadi salah satu tontonan wajib. Walau belum tentu faham dengan isi yang coba dikedepankan oleh pembuatnya. Dari kekocakan, kekonyolan dan keluguan tokoh dengan bentuk kotak kuning ini, yang pasti telah menguras habis minat mereka untuk terus menontonnya.
Kalau kita --orang dewasa-- mencoba meluangkan waktu untuk menontonnya, sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa kita petik darinya.Sayangnya, tidak banyak orang dewasa yang mau mencoba menontonnya. Mereka sudah berasumsi Spongebob merupakan film kartun anak-anak yang mestinya hanya lucu-lucuan atau sekedar menghibur. Hal seperti inilah yang menjebak kita pada satu keputusan sebelun masuk lebih jauh untuk mendalaminya.
Film kartun Spongebob bercerita tentang sebuah spon yang bisa digunakan dalam banyak hal,seperti piranti mencuci atau mengeringkan,isi bantalan kursi, jok motor dan mobil, lapisan jaket musim dingin dan kadang kita lihat untuk melapisi tembok yang digunakan untuk tempat terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Melihat sifat kelenturan --fleksibitas-- dan multi guna dari benda yang bernama spon menjadi ide sentral pembuatan film kartun Spongebob adalah sebuah pemikiran cerdas.
Berangkat dari penggunaan spon sebagai ide dasar pembuatan film kartun Spongebob, penulis coba menggunakan spon kaitannya dengan pembelajaran di dunia pendidikan.
Dalam setiap pembelajaran terbagi atas dua aktivitas. Belajar dan mengajar. Belajar adalah aktivitas yang dilakukan oleh penuntut ilmu dalam menerima, menangkap, memahami semua informasi (ilmu pengetahuan) dari seorang guru. Sedangkan mengajar adalah aktivitas yang dilakukan oleh guru untuk mentransfer, menuangkan, memberikan, menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para siswanya.
Dalam menyerap ilmu, aktivitas belajar siswa bagaikan sepotong spon kering yang menyerap air yang dituangkan kepadanya. Seberapa banyak spon kering itu dapat menyerap air, tergantung seberapa kuat daya serap yang dimiliki oleh spon tersebut. Daya serap spon tergantung dari bahan dasar pembuat spon.
Aktivitas belajar siswa berbanding lurus dengan daya serap hasil belajarnya. Bila aktivitas belajar siswa disusun dan direalisasikan guru match dengan modalitas dan gaya belajar siswa, maka sangat besar alias optimal sekali hasil belajar yang diperolehnya. Sebaliknya, bila bagian terbesar dari aktivitas belajar siswa berupa tumpukan orasi pemberitahuan layaknya iklan tanpa makna, maka bagaina mungkin siswa dapat menyerapnya secara optimal. Sebab yang terjadi adalah kebosanan, keengganan dan kadang kemuakan atas apa yang semestinya mereka "belajar" terhadapnya.
Ada baiknya kalau kita mencoba menawarkan spon kering yang berdaya serap tinggi ke hadapan siswa-siswi kita, bukannya spon yang sudah basah yang sudah tidak punya daya serap sama sekali. Hayo !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar