Rabu, 13 Oktober 2010

" KEKUASAAN "

Dalam hidup ini kadang kita mendapatkan satu posisi yang dianggap orang lain sebagai kedudukan atau pangkat. Kedudukan atau pangkat ini selalu bersinggungan dengan kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud adalah justifikasi, kewenangan dan kebijakan.
Kekuasaan bagi sebagian orang dianggap sebagai berkah, karunia, rahmat dari Allah yang luar biasa. Memaknai keluarbiasaan kekuasaan yang sedang dipegangnya, menjadi sah-sah saja bila kemudian atas dasar kedudukan tadi seseorang berubah menjadi merasa lebih tinggi, pintar, bermartabat dan ekskusif. Justifikasi diambil dengan sepihak karena memiliki kewenangan, keputusan diambil dengan dasar mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Kedudukan, pangkat, derajat, kekuasaan, kewenangan dan fasilitas harus selalu melekat dan mengiringi kemanapun orang tersebut berada. Tidak perlu ada tenggang rasa, empaty dan " ewuh pakewuh". Dimanapun dan kapan saja kekuasaan itu bisa dimanfaatkan, maka tidak perlu melihat situasi dan kondisi, full power yang digenggamnya dihambur-hamburkan tanpa harus memunculkan etika dan estetika pergaulan "Jawa". Yang ada aji mumpung, mumpung aji. Egoisme tingkat tinggi, tidak perlu menoleh belakang, juga tidak usah menerawang "blue print diri" dimasa akan datang. Kekalkah kekuasaan dan kedudukan yang sekarang dipegangnya. Berapa banyak barisan "mitra kerja sakit hati" yang nantinya akan berganti memegang kedudukan dan berkuasa sebagaimana orang itu sekarang berkuasa. Berapa besar stok jaminan tidak akan ada balas dendam? Bukankah kita juga manusia biasa yang bisa berbuat khilaf sebagaimana yang diperbuatnya?
Nah, beginikah sebenarnya kekuasaan karena kedudukan yang digariskan oleh Islam? Pasti tidak.Lantas bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan kekuasaan yang sedang kita pegang dengan sebaik-baiknya? Islam mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin --penguasa-- yang baik. Pertama: Selalu menyadari bahwa seorang pemimpin akan ditanya oleh Allah akan segala hal yang berkaitan dengan cara dia memimpin. Sehingga dalam memimpin yang kita pakai bukan sekedar otak saja tapi juga perasaan. Sehingga muncul kebijakan-kebijakan yang lembut nyaman tapi penuh ketegasan, yang ketat disiplin tapi penuh pengertian dan tepo seliro, dsbnya. Kedua : Berusaha menselaraskan apa yang menjadi keputusannya --lewat lesan maupun tulisan-- dengan tindakan realisasinya. Ketiga : Berusaha menjadi suri tauladan alias contoh yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keempat: Mengedepankan hati dan perasaan dengan dasar akal sehat. Kelima: Memimpin dengan adil, tulus dan ikhlas. Bukan sebaliknya pilih kasih, penuh motif dan kepentingan serta didasari atas pamrih demi meraup keuntungan pribadi sebesar-besarnya, walaupun dengan jalan yang tidak layak dan baik secara umum. Keenam: Tidak merasa paling pintar, bisa dan menguasai, sehingga dengan tulus mempercayai bawahannya untuk mengambil peran, bukannya semua pekerjaan dikerjakan sendiri "cengangahan".
Dengan berusaha mnjalankan amanat kekuasaan sebagaimana di atas setidaknya kita dapat menggenggam kekuasaan yang sesungguhnya. Artinya kekuasaan yang banyak mendapat apresiasi dari orang-orang di bawahnya. Inilah sebenar-benar kekuasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar