Judul di atas tidak sama sekali sama esensinya dengan “PEPESAN KOSONG”, tapi kalau terinspirasi olehnya, mungkin. Dan penulis anggap ini sah-sah saja, sebab ide muncul bisa original ataupun terinspirasi oleh pemikiran yang telah ada.
Kekuasaan selalu beririsan dengan adanya kedudukan, jabatan, eselon, pangkat atau yang lain. Biasanya dipanggil dengan sebutan pimpinan, ketua, kepala, komandan ataupun yang lainnya. Yang pasti kedudukan tersebut berimplikasi melekatnya kekuasaan pada dirinya. Dengan melekatnya kekuasaan tersebut seseorang bisa mengkoordinir, mengarahkan, memimpin, memutuskan, menentukan dan menjadi ujung tombak dari komunitas yang dipimpinnya. Untuk itu seorang pimpinan semestinya adalah orang yang dianggap “paling” dikomunitasnya tersebut. Paling pintar, kreatif, inovatif, sabar, sopan, tawaduk , pengertian, welas asih, tahu diri dan juga paling disiplin, bijaksana, tegas dan berwibawa.
Mungkin saja kalau sifat “paling” tadi harus semuanya ada pada diri seorang yang akan dijadikan pimpinan, maka akan sulit sekali menemukannya. Akan tetapi tidak lantas kita menjadi pesimis dan nglokro kemudian dengan serampangan kita pilih pimpinan. Keputusan serampangan dalam memilih pimpinan akan berdampak luas bagi perjalanan organisasi tersebut. Masih sedikit beruntung kalau ketemu dengan pimpinan yang kepintarannya, daya kreativitas dan inovasinya serba kurang akan tetapi memilki keunggulan di bidang kesabaran, welas asih, pengertian dan bijaksana. Kalau ketemu dengan pimpinan yang pintar sekali, penuh kreativitas, inovasi dan disiplin, akan tetapi arogan, sok berkuasa, raja tega, sadis, suka mengadu domba, pendendam, tutur katanya keras penuh ketegasan akan tetapi menyakitkan hati bagi pendengarnya, terus bagaimana ? Berontak? Kan itu pilihan kita! Diam saja? Kalau itu sikap kita, maka kita harus siap dengan sakit hati berulang kali, menambah kesabaran. Kalau tidak bisa siap-siaplah sakit liver atau malah jantung kita bocor.
Dari dua model pimpinan yang penulis paparkan di atas, mana yang sebaiknya dipilih? Kalau memang pilihannya dua itu saja, buatlah alternative pilihan yang ketiga.
Mengapa? Sebab pada kedua model pimpinan di atas melekat KEKUASAAN KOSONG akan sangat banyak resistensinya. Resistensi berupa penolakan, ketidak ikhlasan, ketidaknyamanan akan terus menggerogoti kekuasaan yang dimiliki pimpinan tersebut. Model yang pertama memunculkan kebijakan tidak terarah, statis dan apatis. Bagi yang kreatif dan inovatif gerah dengan keadaan tersebut. Model yang kedua memunculkan kebijakan tidak humanis, blok-blokan atau kroni-kronian, sikap munafiq dimana keputusan dijalankan dengan setengah hati dan keterpaksaan karena rasa takut. Belum lagi harmonisasi hubungan antar personal akan retak karena adanya adu domna yang sarat dengan kepentingan pribadi.
Inilah alasan mengapa kita harus mengambil alternative model ketiga….
Seperti apakah model alternative yang ketiga dan menjadi dambaan kita semua. Terlepas dari betapa sulitnya mencari model pimpinan dengan kategori yang memiliki sifat dan sikap “paling” di atas. Untuk itu kita berikhtiar dengan aktif menyaring, menimbang dan pada akhirnya mengambil keputusan untuk menentukan pilihan. Dengan begitu setidaknya akan kita temukan pimpinan yang mendekati kriteria sebagaimana yang dituntut di awal tulisan ini. (Saiful Umam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar