Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Artinya secara kodrati membutuhkan yang namanya sosialisasi atau bermasyarakat. Hidup berkelompok, berkumpul, bermusyawarah, saling membantu, saling menghargai, saling memahami dan etika-etika yang lain.
Dalam bermasyarakat sudah tentu kita bertetangga dengan lainnya. Dalam struktur masyarakat komunitas bertetangga ini biasanya disebut Rukun Tetangga (RT). Dalam komunitas yang biasanya terdiri dari 40 an rumah ini akan kita temukan ragam strata sosial. Sudut pandang idiologi, sosial kemasyarakatan dan tingkat keagamaan. Di RT ini juga ada peraturan-peraturan. Peraturan dibuat dalam rangka membuat masyarakat RT teratur. Dengan hidup teratur diharapkan akan menciptakan ketenangan, ketentraman dan kedamaian. Ujung dari semua itu adalah tercapainya kesejahteraan.
Kesejahteraan secara umum dirasakan manusia bila kehidupannya serba tercukupi. Kata tercukupi lebih mengarah kepada cukup kebutuhan jasmaninya. Yaitu punya uang banyak untuk mencukupi kebutuhan papan, sandang dan pangannya.Dengan tercukupinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka itulah yang namanya kesejahteraan.
Kesejahteraan, kondisi inilah yang dikejar-kejar oleh setiap orang. Rumah bagus, pakaian gemerlapan dan mau makan apa saja bisa karena banyak uang. Seribu keinginan seribu pencapaian. Karena semua bisa diatur oleh UANG. Bagi yang tidak beruang, tidak punya daya apa-apa. Batulkah?
Betapa naifnya manusia jika merasa tidak berharga, tidak mampu apa-apa bila tidak beruang. Uang adalah segalanya bagi hidupnya. Begitu jugakah sikap para guru terhadap uang?? Tidak akan muncul ide kreatif pembelajaran tanpa bayaran yang memadai. Tidak perlu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) wong tidak ada tambahan penghasilan. Tidak akan mau berangkat sedikit lebih awal, kalau uang kelebihan jam kerja hanya cukup beli satu biji sabun mandi.
Oh alangkah menyedihkan nasibmu para penuntut ilmu (siswa-siswi), kalau gurumu hanya menuntut kesejahteraan lahiriyah. Kesejahteraan kulit yang membelenggu pikiran. Segala daya upaya bukan untuk memperbaiki pembelajarannya, akan tetapi beribu upaya untuk mengejar selembar kertas sertifikasi. Dengannya guru dapat kesejahteraan, uang sertifikasi.
Wahai penuntut ilmu, mulai sekarang jangan terlalu besar harapanmu pada para gurumu. Selagi kesejahteraan lahir (uang) yang mereka kejar, maka kualitas pembelajaran mereka tak akan bermakna. Agar tidak bertepuk sebelah tangan, jangan pernah bercita-cita menjadi seorang guru, bila yang akan kamu kejar kesejahteraan lahiriyah juga. Tepuk sebelah tangan akan terus terjadi bila yang kamu cita-citakan sama persis dengan para gurumu !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar