Rabu, 23 November 2011

TATA TERTIB

Bu Rus begitu dia biasa dipanggil siswa-siswi di sekolahannya. Sebuah Sekolah Dasar Swasta Favorit di bawah naungan sebuah Yayasan besar di Semarang. Nama lengkapnya Rusmayati. Usianya 40 tahunan. Suaminya pak Sabar Narimo seorang kepala bengkel mobil terkenal. Mereka memiliki dua anak, si sulung Adam kelas 8 SMP dan adiknya Fera masih duduk di kelas 4 SD.
Tidak seperti biasanya, sejak kemarin sore setelah pulang dari SD tempat kerjanya, bu Rus terus uring-uringan. Semua serba salah. Suaminya yang baru saja datang dari tempat kerja dibiarkan saja. Tumben sore itu bu Rus tidak menyambut suaminya dengan segelas teh hangat. Perjalanannya lancar pa? Sapaan mesra itupun tidak dilakukannya. Segelas teh hangat dan sapaan mesra serta cium tangan menyambut kedatangan suami tercintanya itu sudah dilakukannya rutin sejak menikah dengan pak Sabar 16 tahun yang lalu.
Pak Sabar yang sudah hafal watak istrinya hanya diam saja. Tanpa omong sepatah katapun pak Sabar langsung masuk kamar mandi. Sementara itu bu Rus memanggil Fera agar masuk rumah. Fera yang sedang main sepeda di halaman rumah tetangga cepat-cepat menghentikan main sepedanya.
“ Nok, cepat mandi sana. Ikut mama ke ADA nggak ?”
“ Ikut ma !” sahut Fera kegirangan. ADA merupakan sebuah nama Mal tepatnya di jalan Setiabudi Semarang. Boleh dibilang Mal terbesar dan terlengkap dan paling dekat dari rumah bu Rus.
Setelah pak Sabar keluar dari kamar mandi, sambil menyisir rambut keritingnya bu Rus dengan sedikit merajuk mengajak pak Sabar ke ADA.
“ Pa, sore ini kita ke ADA ya?”
“ Ya,” jawab pak Sabar.
Tidak mau tahu untuk apa pergi ke ADA, pak Sabar cepat-cepat berganti pakaian. Kaos berkerah warna merah maron dan celana panjang merk Cardinal warna hitam dikenakannya. Setelah mengambil kunci mobil Toyota Avanza di laci meja kerjanya, pak Sabar bergegas ke garasi dan menghidupkan mesin mobilnya.
Sambil menggandeng tangan Fera bu Rus keluar dari pintu samping menuju garasi mobil. Setelah mengunci pintu, bu Rus membuka pintu mobil dan menyuruh Fera masuk.
“ Nanti selesai mama belanja kita makan-makan di Mc Donald ya, Pa?”
Ha ..ada apa gerangan. Pak Sabar menangkap gelagat yang tidak enak. Ah biarlah, paling istrinya sedang ada masalah dengan keadaan bu Sum, pikir pak Sabar. Apalagi sudah beberapa kali dalam minggu ini istrinya bercerita kalau bu Sum bagaikan artis ibu kota. Bu Sum yang asli kelahiran satu desa dengan bu Rus sekarang berubah. Setelah suaminya menjadi anggota DPRD, penampilan bu Sum berubah 180 derajat. Sekarang bu Sum mengikuti program perawatan diri. Mukanya dipoles zat pemutih kulit, alisnya ditata. Manicure, padicure, SPA, lulur, facial, detox wajah, hair spa, mandi susu, dan program perawatan diri yang lain. Bu Sum sekarang kinclong pa, begitu laporan bu Rus dengan nada iri. Apa karena bu Sum semakin kinclong yang membuat istriku marah-marah, batin pak Sabar. Kan sudah dua minggu ini istrinya juga telah ikut program perawatan diri di salon kecantikan yang sama dengan bu Sum.
“ Pa, di bengkel papa ada tata tertib untuk para montir ?” Belum sempat pak Sabar menjawab, bu Rus sudah ngomong lagi.
“ Aku heran pa, apa maunya si Kamdi itu. Baru terima SK seminggu sudah buat aturan macam-macam, katanya sih tata tertib.”
“ Pak Kamdi, itu kepala sekolah mama kan ? Masak mama panggil si?” timpal pak Sabar coba luruskan.
“ Lha kalau mau dihormati ya harus menghormati orang pa!”
“ Maksud mama pak Kamdi tidak menghormati mama?”
“ Iya to pa, masak sekarang semua guru harus datang pukul 06.30. Itu namanya tidak menghargai bagaimana kesibukan para istri. Dia kan punya istri juga, Pa!”
“ Tinggal ngatur ulang waktu saja, Ma. Kalau biasanya mama berangkat pukul 06.45 ya sekarang berangkat lebih awal.”
“ Kalau berangkat lebih awal mama bisa pa. Yang jadi masalah bagi mama, sesampai di sekolah masih ada apel pagi. Kemudian diakhir bulan diumumkan 10 besar guru yang paling rajin berangkat sebelum pukul 06.30. Apa kalau guru berangkat lebih awal menjamin kalau guru tersebut lebih berprestasi??
Walah ternyata istrinya uring-uringan terus karena adanya Tata Tertib baru yang dibuat pak Sukamdi, M.Pd. kepala sekolah pengganti bu Kamila.
“ Ya sudah ma, wong hanya disuruh datang pukul 06.30 aja kok protes. Sejak dulu kan jam masuk guru memang pukul 06.30 ? Dengan datang lebih awal mama bisa menyambut siswa-siswi. Mama punya waktu membuat persiapan mengajar. Selama ini papa amati mama tidak pernah membuat rencana pembelajaran. Pak Kamdi membuat tata tertib seperti itu pasti dengan tujuan yang baik,” jawab pak Sabar coba memberi pengertian.
“ Mama tahu pa, tapi kan nggak harus begitu. Yang penting kan sebelum bel masuk berbunyi, mama sudah datang!” bantah bu Rus tidak mau kalah.
“ Kalau mama datangnya mepet dengan bel masuk, mama tidak punya waktu untuk mempersiapkan pembelajaran. Tanpa persiapan, dalam mengajar mama pasti temukan kekurangan.”
“ Yang penting kan mama mengajarkan yang ada di buku pa. Mama tidak pernah ngarang-ngarang materi. Tugas mama kan menjelaskan. Kalau sudah mama jelaskan dan siswa mama tanya sudah bisa, kurang apa lagi?”
“Maksud papa, kalau mama mengajar tanpa menyusun perencanaan pembelajaran, namanya apa ma, RP ya, nah mama hanya menjelaskan alias ceramah saja ma,” balas pak Sabar yang juga lulusan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan sama dengan bu Rus.
“ Alah papa ini, ngapain susah-susah menyusun RP segala. Waktu untuk mengajar saja sudah habis. RP itu kan teori waktu kita kuliah. Di sekolah mama tidak ada guru yang membuat RP. Kata mereka, buat apa susah-susah buat RP, yang penting kan mengajarnya. Anak-anak yang kita ajar juga tidak pernah protes. Nilai ulangan mereka bagus-bagus. Kita kan sarjana pendidikan, punya akta IV, guru professional lagi. Kan sudah lulus sertifikasi.”
“ Ya sudah, ya sudah ma. Mama ini apa to kok makin ngelantur.”
Perbincangan berhenti ketika mobil Avanza mereka masuk di area parkir mal. Ketika bu Rus dan Fera asyik memilih-milih barang, pak Sabar duduk di trotoar depan ATM BNI 46. Sambil minum Yasmin teh yang dibelinya dari sebelah timur ATM BNI 46, pak Sabar mencoba menerka-nerka alasan pak Kamdi membuat tata tertib. Namanya saja tata tertib, pastinya untuk menata dan menertibkan. Menata dan menertibkan ujungnya adalah memperbaiki. Memperbaiki kan hal yang baik, pikirnya.
Montirku sayang, tunggu tata tertib dariku !?

Gedawang, 11 Nopember 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar