Kata sedekah dalam bahasa Arab “ sodaqoh” yang berarti pemberian kepada orang lain tanpa dibatasi waktu dan jumlah. Tujuan sedekah semata-mata untuk beribadah mendekatkan diri pada Allah.
Banyak sekali perintah bersedekah dalam al Qur’an. Walau tidak memakai kata “ sodaqoh “ , namun yang dimaksud adalah bersedekah sebagaimana pengertian di atas. Coba perhatikan QS. Al Isra’ ayat 29 sebagai berikut :
ولا تجعل يدك مغلولة الى عنوفك ولا تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسورا
Artinya : “ Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan ( pula ) engkau terlalu mengulurkannya ( sangat pemurah ) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal“.
Ayat al Qur’an Surat Al Isra’ ayat 29 di atas merupakan ayat yang berisi perintah untuk bersedekah, tapi tidak kita temukan satupun kata sodaqoh. Perintah bersedekah dengan indah diilustrasikan dengan menggunakan kalimat kiasan :
1. Jangan jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu
Tangan terbelenggu oleh lehernya sendiri maksudnya adalah kedua tangan dalam keadaan saling berpegangan erat dan diangkat melingkari leher. Telapak tangan menghadap dan menempel dengan leher, sehingga menutupi bagian leher yang dipegangnya.
Gambaran orang yang meletakkan tangannya terbelenggu pada lehernya sendiri menandakan kalau orang tersebut tidak mau membuka tangannya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, artinya bakhil atau kikir.
Kalimat kiasan di atas mengajarkan kepada setiap mukmin jangan sampai memiliki sifat bakhil atau kikir.
2. Jangan terlalu mengulurkan (tangan)mu
Mengulurkan tangan terlalu panjang artinya terlalu gampang memberikan apa yang dimilikinya. Bahasa gaulnya terlalu tajir atau royal. Bahasa Jawanya brah-breh.
Mengapa terlalu tajir dilarang oleh Allah? Tajir di sini maksudnya pemurah dengan banyak bersedekah kepada orang lain, hanya saja ada maksud lain dari sedekahnya itu. Menarik simpati dengan sedekahnya agar dikatakan sebagai dermawan. Sedangkan keluarganya sendiri terlantar hidup dalam kekurangan.
Dari dua kalimat kiasan yang terdapat pada Surat Al Isra’ ayat 29 tersebut di atas memberikan tuntunan yang jelas jalan yang terbaik bagi orang mukmin untuk mengeluarkan sedekah.
Pertama, orang mukmin dilarang memiliki sifat bakhil atau kikir. Sifat bakhil atau kikir yang tumbuh dalam diri seseorang sangat menyenangkan diri iblis. Iblis bergembira ria bila dalam diri seseorang telah tumbuh rasa takut fakir sehingga menghalanginya untuk bersedekah. Sedangkan bersedekah dalam keadaan sehat dan kikir sangatlah besar pahalanya sebagaimana sabda Rosulullah Muhammad Saw:
Artinya :Rosulullah Saw. ditanya, “ Sedekah apa yang paling besar pahalanya?” Rosulullah menjawab, “ Kamu bersedekah pada waktu sehat dan kikir; takut fakir dan ingin kaya. Janganlah engkau tunda sedekah hingga ruh telah sampai tenggorokanmu, lalu engkau berkata, “ Untuk si fulan sekian, dan si fulan sekian, ‘ingatlah harta tersebut telah menjadi milik ahli warisnya.” (HR. Abu Hurairah)
Hadis tersebut mengajarkan cara bersedekah yang utama, yaitu saat raga masih sehat keluarkan sedekah semampunya, jangan menunggu sampai ajal menjelang. Hingga tidak sempat sedekah dikeluarkan, yang ada hanyalah penyesalan. Begitu juga saat diri kita diliputi sifat kikir dan enggan bersedekah karena takut menjadi fakir, kuatkan tekad untuk terus bersedekah. Yakinlah, tidak akan menjadi fakir mukmin yang suka bersedekah.
Kekikiran yang diilustrasikan bagai tangan terbelenggu pada leher harus dikebiri. Kekikiran menyebabkan celaan setiap orang. Si bakhil, gambir, pahit, brotowali dan julukan lain yang tidak baik dilabelkan kepadanya. Kebakhilan akan menyebabkan keengganan para tetangga bergaul dengannya. Tetangga, kerabat, relasi dan masyarakat lain tidak akan berempati kepadanya kala si bakhil terkena musibah. Di akherat Allah Swt. telah menjanjikan siksa yang pedih baginya.
Kedua, mengeluarkan sedekah harus melalui mekanisnya yang sesuai ajaran Islam. Sebagaimana diilustrasikan pada kalimat kiasan kedua, penguluran tangan dimaksud berkaitan dengan skala perioritas penerima. Penerima sedekah yang paling utama adalah kerabat dekat. Jangan berikan pada orang lain, kalau kerabat dekat masih ada yang membutuhkan. Terlalu gampang dan berlebihan bersedekah kepada orang lain sementara kerabat dekatnya hidup dalam kekurangan bukan cermin sikap seorang mukmin.
Rosulullah Muhammad Saw. pernah memberi teladan dengan menyuruh Abu Thalhah, seorang Anshor yang paling kaya di Madinah mensedekahkan kebun kesayangannya Bairaha kepada kerabat terdekat saja dari pada kepada orang lain.
Sudahkan anda bersedekah hari ini ??
Gedawang, 17 Nopember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar